OPINI

Detail Opini Guru

Menjadi Jawaban atas Doa Orang Lain

Senin, 21 September 2026 12:40 WIB
464 |   -

Refleksi humanistik tentang panggilan mendidik dalam terang

Dalihan Na Tolu dan Anakkonhi Do Hamoraon Di Au

Fr. Nisensius Mety, CMM

Kepala SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige

Setiap pagi, gerbang rumah dan sekolah menjadi tempat serah terima yang tidak pernah tercatat dalam dokumen apa pun. Orang tua melepas anak dan cucunya dengan lambaian singkat, lalu berbalik menuju ladang, pasar, kantor, atau perantauan yang jauh. Namun yang sesungguhnya mereka serahkan bukan hanya seorang anak dengan tas dan seragam. Mereka menyerahkan sebuah doa yang diucapkan dalam diam, mungkin sejak anak itu masih dalam kandungan, mungkin sejak subuh: "semoga anakku dijaga, diajar dengan baik dan benar, dipandang berharga, dan pulang membawa masa depan yang lebih baik daripada yang sanggup kami berikan".

Dari kenyataan sederhana itulah lahir sebuah permenungan ini, hendaklah kita menjadi jawaban atas doa orang lain karena kita pun mendoakan doa yang sama. Kalimat ini mengandung dua gerakan batin sekaligus. Gerakan pertama mengarah ke luar: kesediaan menjadi jawaban, menjadi tangan yang melaluinya harapan orang lain dipenuhi. Gerakan kedua mengarah ke dalam: kesadaran yang merendahkan hati bahwa kita sendiri sedang mengucapkan doa yang persis sama. Guru yang berdiri di depan kelas hari ini adalah juga seorang ayah, ibu, paman, atau saudara bahkan opung yang anak-anak dan cucunya sedang dididik oleh orang lain di sekolah atau kampus lain. Ia berharap dengan sungguh agar orang di sana hadir sepenuh hati bagi anak atau cucunya di mana harapan yang sama persis dengan yang dialamatkan orang tua murid kepadanya.

Kesadaran ini mengubah cara kita memahami pekerjaan mendidik. Dalam pandangan humanistik, pendidikan bukanlah transaksi jasa antara penyedia layanan dan pelanggan, melainkan perjumpaan antarpribadi. Anak-anak bukan objek kurikulum atau angka dalam daftar hadir melainkan mereka adalah pribadi yang dititipkan, pembawa doa dan harapan sebuah keluarga. Ketika seorang guru menyadari bahwa di hadapannya berdiri jawaban doa dari seseorang, pekerjaan yang tampak administratif berubah menjadi tindakan moral. Mengajar dengan penuh tanggungjawab, mengoreksi tugas dengan teliti, menyapa anak dengan namanya dan penuh hormat, bersabar terhadap murid yang lambat memahami, menegur tanpa mempermalukan, semuanya adalah cara konkret sebuah doa dijawab. Tidak ada pekerjaan kecil di sekolah; yang ada hanyalah doa-doa yang dijawab dengan sungguh-sungguh atau diabaikan dengan diam-diam.

Kearifan budaya Batak telah lama merumuskan logika kesalingan semacam ini dalam filosofi dalihan na tolu, tungku berkaki tiga. Tiga sikap menopangnya: somba marhula-hula (hormat kepada pihak pemberi istri), elek marboru (lembut dan mengayomi pihak penerima istri), dan manat mardongan tubu (berhati-hati serta saling menjaga terhadap kerabat semarga). Kekuatan filosofi ini terletak pada satu kenyataan yang sering dilupakan: tidak ada posisi yang permanen. Dalam satu pesta adat seseorang adalah hula-hula yang dihormati dan dilayani; dalam pesta lain, orang yang sama adalah boru yang bekerja dan melayani. Setiap orang bergiliran memberi dan menerima, meninggikan dan direndahkan hatinya. Periuk kehidupan hanya dapat tanak apabila ketiga batu tungku itu sama tinggi dan sama kokoh.

Guru dan orang tua sesungguhnya berada dalam lingkaran kesalingan yang serupa. Hari ini saya mendidik anakmu; pada saat yang sama, di kota lain, seseorang yang tidak saya kenal sedang mendidik anak dari keluargaku. Doa itu berpindah tangan seperti posisi dalam dalihan na tolu: tidak ada yang selamanya menjadi penerima, tidak ada yang selamanya menjadi pemberi. Maka menjawab doa orang lain dengan pelayanan yang bermutu bukanlah kemurahan hati satu arah, melainkan cara kita ikut merawat sebuah jejaring saling menanggung. Itu terjadi bukan karena hitungan balas jasa yang magis, tetapi karena masyarakat yang setiap anggotanya bersedia menjadi jawaban akan melahirkan budaya di mana doa siapa pun, termasuk doa kita akan menemukan tanah yang subur untuk dijawab.

Kesalingan itu menjadi semakin bermakna bila kita mengingat betapa besar taruhannya. Orang Batak menyanyikannya dengan sepenuh dada: "anakkonhi do hamoraon di au", anakku adalah kekayaanku. Ungkapan ini bukan hiasan bibir. Hal ini diwujudkan dalam sejarah panjang orang tua yang menjual sawah, melepas ternak, menahan lapar, dan merantau bertahun-tahun demi satu tujuan yaitu anak harus sekolah, anak harus lebih tinggi daripada orang tuanya. Bagi keluarga Batak, pendidikan anak bukan salah satu pos pengeluaran; pendidikan adalah keseluruhan investasi hidup, harta yang sesungguhnya. Maka ketika seorang ibu menyerahkan anaknya di gerbang sekolah, ia sedang menyerahkan seluruh kekayaannya ke tangan orang lain. Guru tidak sedang menerima seorang murid; ia sedang menerima hamoraon sebuah keluarga. Kelalaian dalam mendidik, mengajar, melatih dan mendampingi bukan sekadar kegagalan profesional, tetapi hal itu sangat melukai harta paling berharga yang dimiliki sesama manusia.

Di sinilah profesionalisme menemukan kedalaman rohaninya. Menjadi jawaban atas doa orang lain tidak cukup dengan niat baik dan senyum ramah tetapi menuntut kompetensi, disiplin, dan kerja keras yang terus diperbarui. Doa orang tua tidak terjawab oleh guru yang baik hati tetapi tidak menyiapkan pelajaran, atau oleh sekolah yang hangat tetapi membiarkan mutu merosot. Iman memberi arah, ilmu pengetahuan memberi kemampuan, dan persaudaraan memberi cara kita hadir bagi satu sama lain. Ketiganya harus berjalan bersama, seperti tiga kaki tungku itu. Dan perhatian yang paling sungguh, selayaknya diberikan kepada anak-anak yang doanya paling sunyi adalah mereka yang datang dari keluarga sederhana, yang orang tuanya tidak pernah bersuara, yang tidak punya siapa-siapa untuk memperjuangkannya. Justru pada merekalah kehadiran seorang pendidik paling menentukan apakah sebuah doa dijawab atau dibiarkan menggantung.

Besok pagi gerbang sekolah akan kembali ramai. Anak-anak datang membawa doa yang tidak kelihatan, dan kita menyambut mereka sambil membawa doa kita sendiri untuk anak-anak kita di tempat lain. Ukuran pelayanan kita menjadi sangat sederhana sekaligus sangat menuntut akan hal ini; perlakukanlah setiap anak sebagaimana kita berharap anak kita diperlakukan oleh guru-gurunya di sana. Sebab pada akhirnya, doa para orang tua di seluruh penjuru itu satu dan sama, dan kita diberi rahmat oleh Tuhan untuk boleh menjadi jawabannya.

 

Da mihi animas, Caetera Tolle”

Berilah aku jiwa, ambillah yang lain

"Tidaklah cukup kita mengasihi anak-anak, mereka harus merasakan bahwa mereka sungguh dikasihi",

Santo Yohanes Bosco.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini