Kepemimpinan yang Melayani dalam Semangat Mendidik Santo Yohanes Bosco: Fides, Scientia et Fraternitas
SEBUAH REFLEKSI DALAM RANGKA PERINGATAN HUT KE-70 SMA SWASTA BINTANG TIMUR 1 BALIGE
Kepemimpinan yang Melayani dalam Semangat Mendidik Santo Yohanes Bosco:
Fides, Scientia et Fraternitas (Iman, Ilmu Pengetahuan, dan Persaudaraan)
Tujuh Puluh Tahun Melayani, Tujuh Puluh Tahun Mendidik dengan Hati
(1956 - 01 Agustus - 2026)
Fr. Nisensius Mety, CMM
Kepala SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige
Para pembaca yang budiman dan seluruh warga sekolah yang kami banggakan.
Menjelang Hari Ulang Tahun sekolah kita yang ke-70 yang jatuh pada tanggal 1 Agustus 2026, kami mengetengahkan kepada kita sebuah refleksi tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) yang bertolak dari semangat mendidik Santo Yohanes Bosco. Semasa hidupnya Don Bosco (1815-1888) memberikan dirinya secara total dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Imannya yang mendalam kepada Allah, kebaikan hati dan rasa solidernya kepada kaum kecil, kecerdasan dan kemampuan pedogogiknya yang mumpuni, ia gunakan untuk melayani kaum muda agar mereka dapat menggapai cita-citanya. Sejak wafatnya pada tanggal 31 Januari 1888, semangat itu terus dihidupi oleh berbagai lembaga pendidikan katolik termasuk sekolah kita, SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige.
Tujuh puluh tahun bukanlah angka yang kecil. Selama tujuh dekade, SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige telah menjadi rumah bagi ribuan anak muda Toba dan sekitarnya; tempat mereka belajar membaca dunia, menemukan jati diri, dan menumbuhkan harapan. Di bawah naungan Yayasan Don Bosco Manado Perwakilan Balige, sekolah ini menghidupi semangat mendidik Santo Yohanes Bosco dengan tiga nilai utama yang menjadi rohnya: Fides, Scientia et Fraternitas: iman, ilmu pengetahuan, dan persaudaraan. Peringatan ulang tahun ke-70 bukan sekadar perayaan usia, melainkan undangan untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan bertanya kembali: kepemimpinan dan pelayanan seperti apa yang harus terus kita hidupi agar sekolah ini tetap bermakna bagi generasi mendatang?
Tulisan sederhana ini hendak merefleksikan kepemimpinan yang melayani dengan berangkat dari realitas konkret di sekolah dan masyarakat, lalu menimbangnya dalam terang tiga nilai utama Don Bosco, untuk akhirnya menawarkan jalan rekonsiliasi melalui tindakan-tindakan nyata. Inilah cara terbaik memperingati tujuh puluh tahun bukan dengan berpuas diri pada masa lalu, melainkan dengan memperbarui komitmen untuk hari ini dan esok.
Membaca Realitas: Tantangan di Usia yang Matang
Setiap pagi, ketika gerbang SMA Bintang Timur 1 dibuka, anak-anak berdatangan dengan langkah, wajah, dan beban hidup yang berbeda-beda. Ada yang datang dari keluarga sederhana yang berjuang keras membiayai pendidikan, ada yang harus membantu orang tua di ladang atau di pasar sebelum dan sesudah jam sekolah, ada pula yang kehilangan motivasi karena merasa tidak ada orang dewasa yang sungguh-sungguh peduli. Di balik seragam yang rapi, sering tersembunyi kerapuhan yakni rasa rendah diri, tekanan pergaulan, dan kesepian di tengah keramaian gawai. Inilah realitas yang dihadapi sekolah kita hari ini; tidak jauh berbeda dengan kaum muda yang dijumpai Don Bosco di kota Turin, Italy pada abad kesembilan belas.
Pada saat yang sama, masyarakat menuntut sekolah menghasilkan angka di mana nilai ujian, peringkat, persentase kelulusan, dan jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi favorit. Tuntutan ini sah dan penting, namun bila berdiri sendiri ia dapat memperlakukan anak sebagai data, bukan sebagai pribadi. Guru pun tidak luput dari tekanan. Mereka kerap lelah oleh beban administratif, merasa kurang dihargai, dan kadang kehilangan ruang untuk bertumbuh. Di usia yang matang, sebuah lembaga juga menghadapi godaan tersendiri yaitu merasa cukup mapan, terjebak rutinitas, dan kehilangan ketajaman untuk membaca perubahan zaman.
Dalam konteks seperti inilah kepemimpinan pendidikan kita diuji. Godaan yang paling halus adalah memimpin dari balik meja: mengelola sekolah seperti pabrik, mengejar capaian terukur, dan mengukur keberhasilan semata-mata dari laporan. Bila ini yang terjadi, sekolah kehilangan jiwanya. Anak-anak kecil dan terpinggirkan, mereka yang justru paling dicintai Don Bosco, menjadi yang pertama tersisih karena dianggap tidak menambah angka prestasi. Tujuh puluh tahun perjalanan memanggil kita untuk berhenti sejenak dan bertanya kembali pada nilai-nilai yang seharusnya menerangi setiap langkah kita.
Refleksi dalam Terang Fides (Iman)
Fides atau iman adalah fondasi pertama yang telah menopang sekolah ini sejak awal berdirinya. Bagi Don Bosco, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan karya keselamatan untuk menolong kaum muda menjadi ‘warga negara yang baik dan orang kristiani yang jujur’. Iman mengingatkan setiap pemimpin dan pendidik bahwa setiap anak adalah citra Allah, bernilai tak terhingga, terlepas dari nilai rapor atau latar belakang keluarganya. Dengan kacamata iman, siswa yang paling sulit sekalipun bukanlah masalah yang harus disingkirkan, melainkan pribadi yang dipercayakan untuk dicintai dan diselamatkan.
Iman juga menjadi sumber kekuatan batin. Don Bosco menghidupi spiritualitas yang ia sebut Sistem Preventif yaitu mendidik dengan iman, ilmu pengetahuan, dan kasih persaudaraan (fides, scientia et fraternitas). Ia menolak hukuman yang merendahkan dan memilih kehadiran yang penuh kasih, karena percaya bahwa di lubuk hati setiap anak, ada satu titik yang masih peka pada kebaikan dan tugas pendidik adalah menemukan titik itu. Dalam terang Fides, kepemimpinan yang melayani berakar pada doa dan kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi, bukan pada ambisi pribadi. Selama tujuh puluh tahun, iman inilah yang menjadi nyala lilin yang menerangi sekolah kita melewati berbagai musim baik suka maupun duka.
Maka, ketika realitas menggoda kita untuk mereduksi anak menjadi angka, iman mengoreksi arah pandang kita. Ia bertanya, apakah kebijakan ini menjadikan yang kecil lebih bermartabat, atau justru meminggirkan mereka? Iman menuntut keberanian moral untuk berpihak pada yang lemah, sekalipun pilihan itu tidak populer atau tidak menguntungkan secara statistik.
Refleksi dalam Terang Scientia (Ilmu Pengetahuan)
Scientia atau ilmu pengetahuan menegaskan bahwa pelayanan yang tulus tidaklah cukup bila tidak disertai kompetensi. Don Bosco bukan hanya seorang rohaniwan yang penuh kasih. Ia seorang pendidik yang cerdas, pendiri sekolah-sekolah kejuruan, penulis, dan inovator yang membaca kebutuhan zamannya. Ia membekali kaum muda dengan keterampilan nyata agar mereka dapat hidup mandiri dan bermartabat. Bagi sebuah sekolah yang telah berusia tujuh puluh tahun, Scientia adalah panggilan untuk tidak berhenti belajar untuk memahami pedagogi terkini, mengelola lembaga secara profesional, membaca data dengan jernih, dan memahami perkembangan psikologis anak lalu menggunakan semuanya untuk melayani, bukan untuk menindas.
Ilmu pengetahuan menjaga agar kasih tidak jatuh menjadi sentimentalisme belaka. Mencintai siswa berarti juga menuntut yang terbaik dari mereka, menyiapkan pembelajaran yang bermutu, dan terus memperbarui diri. Seorang pemimpin yang melayani menjadikan dirinya pembelajar seumur hidup, mendorong budaya literasi dan riset di antara guru, serta berani mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan sekadar kebiasaan lama. Di sinilah ilmu pengetahuan bertemu dengan pelayanan. Kompetensi menjadi bentuk kasih yang paling konkret kepada mereka yang kita layani. Usia tujuh puluh tahun tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri, melainkan modal pengalaman untuk berinovasi lebih berani.
Namun Scientia juga harus dijaga oleh Fides dan Fraternitas. Ilmu pengetahuan tanpa iman mudah menjadi sombong dan teknokratis. Ilmu pengetahuan tanpa persaudaraan mudah menjadi alat untuk berkuasa. Ketiga nilai itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menerangi. Pemimpin yang melayani memadukan hati yang beriman, kepala yang terdidik, dan tangan yang merangkul.
Refleksi dalam Terang Fraternitas (Persaudaraan)
Fraternitas atau persaudaraan adalah jiwa dari komunitas pendidikan ala Don Bosco. Ia mengembangkan apa yang disebut spirit keluarga (spirito di famiglia). Sekolah sebagai rumah yang menerima, halaman bermain yang menggembirakan, gereja yang mendoakan, dan sekolah yang mencerdaskan. Dalam suasana keluarga, relasi tidak dibangun atas dasar takut, melainkan atas dasar kasih dan kepercayaan. Pemimpin yang melayani menghadirkan dirinya bukan sebagai atasan yang jauh, melainkan sebagai saudara yang berjalan bersama, yang dikenal dan mengenal, yang hadir di tengah, bukan di atas komunitasnya. Inilah warisan terindah yang dirayakan dalam tujuh puluh tahun perjalanan SMA Bintang Timur 1 Balige di mana ribuan alumni yang merasa pernah menjadi bagian dari satu keluarga besar.
Persaudaraan mengoreksi realitas relasi yang dingin dan fungsional yang sering muncul di banyak sekolah. Ia mengundang pemimpin untuk membangun budaya saling mendengarkan, menghargai guru sebagai rekan seperjalanan, dan menjadikan ruang guru sebagai tempat bertumbuh, bukan sekadar bekerja. Fraternitas juga berarti keberpihakan. Dalam sebuah keluarga, anggota yang paling lemah justru paling diperhatikan. Maka sekolah yang menghidupi persaudaraan akan memastikan bahwa siswa yang miskin, yang lambat belajar, dan yang bermasalah di rumah tetap merasa diterima dan dicintai.
Inilah letak istimewa kepemimpinan yang melayani yaitu menjadikan persaudaraan sebagai metode sekaligus tujuan. Don Bosco terkenal dengan ungkapannya bahwa pendidikan adalah ‘perkara hati’. Hati hanya dapat disentuh oleh hati yang lain. Maka tidak ada pelayanan pendidikan yang sejati tanpa kehadiran yang hangat, sabar, dan setia di tengah kaum muda, sebuah kesetiaan yang telah dibuktikan sekolah ini selama tujuh dekade.
Menuju Rekonsiliasi: Tindakan Konkret di Tahun ke-70
Refleksi atas ketiga nilai itu menuntut jawaban yang konkret. Rekonsiliasi yang dimaksud bukan sekadar mendamaikan konflik, melainkan menyatukan kembali apa yang terpisah: antara tuntutan prestasi dan martabat pribadi, antara profesionalitas dan kehangatan, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara kebanggaan masa lalu dan keberanian menyongsong masa depan. Berikut beberapa tindakan nyata yang dapat menjadi jembatan rekonsiliasi itu, sekaligus menjadi kado terindah bagi sekolah di tahun ke-70.
Pertama, hadir di tengah, bukan di atas. Meneladani kebiasaan Don Bosco yang selalu berada di halaman bersama anak-anak, pemimpin sekolah dapat menjadwalkan waktu rutin untuk berkeliling kelas, menyapa siswa dengan nama, menyambut mereka di gerbang, dan benar-benar mendengarkan keluhan guru. Kehadiran yang konsisten ini adalah wujud paling sederhana sekaligus paling kuat dari kepemimpinan yang melayani.
Kedua, berpihak nyata pada yang kecil. Iman dan persaudaraan diwujudkan melalui kebijakan konkret: program pendampingan bagi siswa yang berisiko putus sekolah, keringanan biaya bagi keluarga tidak mampu, jam konseling yang mudah diakses, serta perhatian khusus bagi siswa yang lambat belajar. Di momentum tujuh puluh tahun, sekolah dapat memperkuat dana beasiswa solidaritas alumni demi anak-anak Toba yang berbakat namun kurang mampu.
Ketiga, memimpin secara profesional dan terus belajar. Scientia diwujudkan melalui supervisi akademik yang membangun, pelatihan berkelanjutan bagi guru, pengambilan keputusan berbasis data, dan keterbukaan terhadap inovasi pembelajaran. Pemimpin yang melayani memberi teladan sebagai pembelajar yaitu membaca, meneliti, dan berani memperbarui cara lama yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan generasi sekarang.
Keempat, merawat spirit keluarga di antara para pendidik. Persaudaraan dipupuk lewat hal-hal sederhana seperti pertemuan yang manusiawi, perayaan keberhasilan bersama, ruang untuk berbagi beban, dan apresiasi yang tulus. Ketika guru merasa dihargai sebagai saudara, mereka akan meneruskan kehangatan itu kepada para siswa. Perayaan HUT ke-70 adalah kesempatan emas untuk merajut kembali tali persaudaraan antara guru, siswa, orang tua, dan alumni.
Kelima, menumbuhkan iman yang dihidupi, bukan sekadar diajarkan. Fides berakar lewat keteladanan, doa bersama yang bermakna, perayaan iman yang hidup, kepedulian sosial yang nyata, dan integritas pemimpin dalam kata dan perbuatan. Anak-anak belajar beriman bukan hanya dari ceramah, melainkan dari menyaksikan orang dewasa yang sungguh hidup dalam kasih.
Kelima tindakan ini tidak menuntut sumber daya yang besar, melainkan ketulusan hati dan kesetiaan yang panjang. Di situlah Fides, Scientia et Fraternitas berpadu menjadi satu gerak pelayanan yang utuh yakni iman yang memberi arah, ilmu yang memberi kualitas, dan persaudaraan yang memberi kehangatan.
Penutup: Tujuh Puluh Tahun, Sebuah Awal yang Baru
Kepemimpinan yang melayani dalam semangat Don Bosco bukanlah jabatan untuk dinikmati, melainkan panggilan untuk dihidupi. Tujuh puluh tahun perjalanan SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige adalah kisah kesetiaan. Kesetiaan yang menjadikan kehadiran kita bermakna bagi orang lain, terutama bagi yang kecil dan terpinggirkan. Ketika realitas yang berat menggoda kita untuk menyerah pada angka dan tekanan, tiga nilai ini menjadi kompas yang menuntun kita pulang, pulang kepada anak-anak yang menanti untuk dicintai, dididik, dan dipercaya. ”Tidak cukup kita mencintai anak-anak, tetapi anak-anak harus merasakan bahwa mereka sungguh dicintai” Demikian kata Don Bosco.
Seperti Don Bosco yang menjadikan seluruh hidupnya persembahan bagi kaum muda, demikian pula seluruh keluarga besar SMA Bintang Timur 1 Balige dipanggil untuk berkata dengan hidupnya, bukan hanya dengan kata-katanya. Di sini, di sekolah ini, iman, ilmu pengetahuan, dan persaudaraan bukan sekadar semboyan, melainkan jalan yang kita tempuh setiap hari demi mereka yang dipercayakan kepada kita. Selamat ulang tahun yang ke-70 SMA BTB. Semoga cahaya Bintang Timur terus menerangi Soposurung, Balige, dan tanah Toba ini dari generasi ke generasi. Dirgahayu SMA BTB!
”Da mihi animas, Caetera Tolle”
Berilah aku jiwa, ambillah yang lain
St. Yohanes Bosco
— Fides, Scientia et Fraternitas —
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini