“Lihatlah, Darahku Ini Mengalir untuk SMA BTB”: Selamat Jalan, Pak Kondar Leo Manatal Nadeak, S.Ag.
Balige, Trias Bintang Timur — Tidak ada yang menyangka bahwa Kamis pagi, 8 Oktober 2026, akan menjadi hari yang begitu kelam bagi keluarga besar SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige. Sesaat setelah doa pagi, kabar duka itu datang, memecah keheningan dan meninggalkan luka mendalam di hati seluruh warga sekolah. Pak Kondar Leo Manatal Nadeak, S.Ag., guru Pendidikan Agama Katolik sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, telah mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan setelah menjalani perawatan selama kurang lebih satu minggu.
Kabar itu terasa begitu mengejutkan. Seolah-olah petir menyambar di tengah pagi yang semula berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar siap menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini hadir bersama mereka, menghidupkan suasana sekolah dengan ide-ide segar, humor, dan perhatian kepada para siswa, kini telah pergi untuk selamanya. Di antara banyak kenangan yang ditinggalkannya, ada satu ungkapan yang begitu melekat dalam ingatan rekan-rekan kerjanya: “Lihatlah, darahku ini mengalir untuk SMA BTB.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan spontan. Bagi keluarga besar SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige, kata-kata tersebut kini menjadi gambaran tentang kuatnya ikatan batin Pak Kondar dengan sekolah tempat ia mengabdikan diri. Ia bukan hanya bekerja di sana, melainkan turut memikirkan, memperjuangkan, dan menghidupi dinamika sekolah dengan segala gagasan dan energinya. Kini, ketika dirinya telah tiada, ungkapan itu terdengar kembali dengan makna yang jauh lebih mendalam.
“Frater, Izin Dulu Aku Ya”
Di antara begitu banyak kenangan, ada satu percakapan terakhir yang akan selalu membekas dalam ingatan Frater Kepala SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige. Sekitar satu minggu sebelum meninggal dunia, ketika kondisi kesehatannya mengharuskannya beristirahat dan mendapatkan perawatan, Pak Kondar datang meminta izin kepada kepala sekolah. “Frater, izin dulu aku ya,” demikian kata Pak Kondar.
Mendengar permintaan itu, Fr Nisen mendekatinya. Dengan penuh perhatian, beliau meraba kepala dan leher Pak Kondar, lalu menyampaikan pesan sederhana yang lahir dari kepedulian seorang rekan sekaligus pimpinan. “Pulanglah dan istirahat yang cukup ya. Semoga cepat sembuh.” Percakapan itu mungkin tampak biasa pada saat terjadi. Sebuah percakapan singkat antara dua rekan yang saling mengenal dan peduli. Namun, tidak seorang pun menyangka bahwa kata-kata tersebut akan menjadi salah satu kenangan terakhir mereka. Seminggu kemudian, kabar duka itu datang. Harapan agar Pak Kondar segera pulih harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa perpisahan itu telah menjadi perpisahan untuk selamanya. Sapaan sederhana yang dahulu mengiringi kepergiannya untuk beristirahat kini berubah menjadi kenangan yang menyentuh hati.
Guru yang Asyik, Humoris, dan Penuh Perhatian
Bagi para siswa, Pak Kondar bukan sekadar guru yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran. Ia adalah sosok yang mampu menghadirkan suasana belajar yang hidup, menyenangkan, dan penuh kedekatan. Salah seorang siswa mengungkapkan kesan yang mewakili perasaan banyak teman-temannya terhadap almarhum. “Pak KL itu banyak idenya, asyik saat mengajar, humoris, dan penuh perhatian bagi para muridnya. Kami merasa sangat kehilangan.”
Kesaksian sederhana itu menyimpan makna yang mendalam. Di balik sosok seorang guru, para siswa menemukan pribadi yang mampu membuat suasana belajar terasa lebih hidup. Ide-idenya menghadirkan warna tersendiri, humornya mencairkan suasana, dan perhatiannya membuat para siswa merasa diperhatikan. Bagi seorang pendidik, mungkin tidak semua kebaikan dapat diukur melalui angka atau tertulis dalam laporan kinerja. Ada hal-hal yang justru tinggal lebih lama dalam ingatan: cara seorang guru menyapa, candaan yang membuat kelas kembali ceria, perhatian ketika seorang siswa menghadapi kesulitan, dan kesediaan untuk mendengarkan. Hal-hal sederhana itulah yang kini dirindukan oleh para siswa.
Ketika seorang siswa mengatakan bahwa dirinya merasa kehilangan, ungkapan tersebut bukan hanya menggambarkan kesedihan karena seorang guru telah tiada. Di dalamnya tersimpan pengakuan bahwa kehadiran Pak Kondar telah memberikan arti dalam pengalaman mereka sebagai pelajar. Kenangan tentang guru yang humoris, penuh gagasan, dan penuh perhatian itu akan terus hidup dalam cerita yang mereka bagikan kepada teman-teman dan generasi siswa berikutnya.
Rekan Diskusi yang Hangat, Penggagas Ide yang Berani
Kesedihan yang sama juga dirasakan oleh para guru dan rekan kerja. Bagi mereka, Pak Kondar merupakan pribadi yang kaya gagasan, terbuka dalam berdiskusi, dan berani mengemukakan pandangan yang berbeda. Ia dikenal sebagai teman diskusi yang hangat, rekan bertukar pikiran, sekaligus teman adu argumen yang mampu menghidupkan suasana. Tidak jarang, gagasan yang disampaikannya terasa di luar kebiasaan atau out of the box. Namun, justru dari keberanian berpikir berbeda itulah muncul percakapan, perdebatan, dan pertukaran gagasan yang memperkaya kehidupan bersama di sekolah.
Pak Kondar bukan tipe pribadi yang membiarkan suasana berjalan begitu saja. Ia memiliki ide, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam dinamika sekolah dengan caranya sendiri. Kehadirannya memberikan warna dalam pertemuan, diskusi, maupun percakapan sehari-hari di antara para guru.
Kini, ruang-ruang diskusi itu akan terasa berbeda. Tidak ada lagi suara yang melontarkan gagasan baru, tidak ada lagi adu argumen yang menghangatkan percakapan, dan tidak ada lagi kehadiran yang spontan menghidupkan suasana. Namun, setiap gagasan baik yang pernah ia sampaikan tidak harus berhenti bersama kepergiannya. Semangat untuk berpikir terbuka, berdiskusi secara kritis, dan berani mencari pendekatan baru merupakan warisan yang dapat terus dilanjutkan oleh rekan-rekan yang ditinggalkannya. Dalam dunia pendidikan, sekolah membutuhkan pribadi-pribadi yang tidak hanya menjalankan rutinitas, tetapi juga berani berpikir, mengusulkan perubahan, dan mengajak orang lain melihat kemungkinan-kemungkinan baru. Dalam diri Pak Kondar, rekan-rekannya menemukan sosok yang membawa semangat tersebut.
Wakil Kepala Sekolah yang Dekat dengan Para Siswa
Pada akhir masa pengabdiannya, Pak Kondar mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Jabatan ini menempatkannya dalam peran penting untuk mendampingi kehidupan peserta didik, mendukung pembinaan karakter, dan membantu menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi pertumbuhan mereka. Peran tersebut selaras dengan kesan para siswa yang mengenangnya sebagai guru yang penuh perhatian. Baginya, kehidupan sekolah tidak hanya berpusat pada pelajaran dan pencapaian akademik, tetapi juga pada bagaimana para siswa bertumbuh sebagai pribadi.
Bidang kesiswaan menuntut kemampuan untuk memahami dinamika kaum muda, mendengarkan berbagai persoalan, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan yang mempertimbangkan kepentingan pendidikan. Dalam menjalankan tanggung jawabnya, Pak Kondar menjadi bagian dari dinamika pembinaan peserta didik di SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige. Kepedulian kepada siswa, gagasan-gagasan yang terus berkembang, serta kehadirannya dalam kehidupan sekolah menjadi bagian dari kenangan yang ditinggalkan.
Kepergiannya mengingatkan seluruh warga sekolah bahwa tugas mendidik tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pendidikan juga tumbuh melalui perhatian, percakapan, ketegasan yang mendidik, humor yang menghangatkan, dan kesediaan untuk terlibat dalam kehidupan para siswa. Di sinilah makna pengabdian seorang guru menemukan bentuknya: bukan hanya melalui apa yang diajarkan, melainkan juga melalui bagaimana ia hadir dalam kehidupan orang-orang yang didampinginya.
Kepulangan yang Disambut Air Mata
Ketika jenazah Pak Kondar diantar menggunakan ambulans Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan dan memasuki kompleks SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige, suasana haru menyelimuti seluruh warga sekolah. Kali ini, Pak Kondar kembali ke sekolah yang dicintainya, tetapi bukan untuk mengajar, berbincang dengan rekan-rekan guru, atau menjalankan tugas seperti hari-hari sebelumnya. Ia kembali dalam keheningan, untuk terakhir kalinya.
Seluruh warga sekolah berkumpul memberikan penghormatan terakhir. Para guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik menyambut kedatangan jenazah dengan hati yang berat. Kehadiran mereka menjadi ungkapan kasih, rasa kehilangan, dan penghormatan kepada seorang rekan serta pendidik yang telah menjadi bagian dari keluarga besar sekolah.
Fr. Nisen menerima kembali kehadiran rekan yang sebelumnya berpamitan untuk beristirahat dan berharap segera sembuh. Namun, kali ini Pak Kondar telah terbujur kaku dalam peti jenazah. Tidak ada lagi percakapan singkat, tidak ada lagi sapaan yang biasa terdengar. Yang hadir hanyalah keheningan dan kenyataan pahit yang harus diterima. Dalam prosesi penghormatan tersebut, ambulans yang membawa jenazah berputar tiga kali di tengah barisan seluruh warga sekolah. Prosesi itu menjadi bagian dari penghormatan terakhir, mengiringi kepulangan Pak Kondar dengan suasana yang penuh keharuan.
Kembali ke Tanah Kelahiran
Setelah penghormatan terakhir di sekolah, jenazah Pak Kondar diantarkan ke rumahnya untuk beberapa hari lalu diantar ke kampung halaman sekaligus tempat kelahirannya di Tanjung Bunga, Samosir, untuk dimakamkan.
Di tanah yang menyimpan jejak awal kehidupannya itu, Pak Kondar akhirnya beristirahat untuk selamanya, tepat di samping makam ayahandanya yang telah lebih dahulu berpulang beberapa tahun silam.
Selamat jalan, Pak Kondar.
Terima kasih atas pengabdian, persahabatan, humor, dan gagasan-gagasan yang telah menjadi bagian dari perjalanan SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige. Terima kasih karena telah menghidupkan suasana, menemani proses pendidikan, dan memberikan perhatian kepada para siswa. Semoga Tuhan yang telah memanggil Bapak memberikan istirahat kekal dan menganugerahkan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga benih kebaikan yang telah ditaburkan selama hidup menjadi warisan yang terus bertumbuh dalam kehidupan banyak orang.
Selamat beristirahat dalam damai, Pak Kondar. Tubuhmu telah kembali ke tanah kelahiranmu di Tanjung Bunga, Samosir, tetapi gagasan, persahabatan, perhatian, dan pengabdianmu akan tetap hidup di hati keluarga besar SMA BTB.
Requiescat in pace. Semoga beristirahat dalam damai. Ad Vitam Aeternam.
Tim Jurnalis SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini