Lilin itu Menuntaskan Terangnya: SMA BTB Lepas Pengabdian Bapak Pardede dengan Penuh Haru





Trias Bintang Timur – Ada pertemuan yang membawa sukacita, tetapi ada pula perpisahan yang meninggalkan jejak air mata. Senin pagi, 15 Juni 2026, langit SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige seolah menjadi saksi sebuah perjalanan panjang yang mencapai garis akhirnya. Sebuah perjalanan pengabdian, ketulusan, dan cinta seorang guru kepada dunia pendidikan.
Di lapangan sekolah yang selama puluhan tahun menjadi ruang pengabdian dan kenangan, keluarga besar SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige berkumpul untuk melepas Bapak Sabar Pardede, S.Pd., yang memasuki masa purnabakti setelah mengabdi selama 28 tahun 6 bulan.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Yayasan Fr. Stefanus Damay, Kepala Sekolah Fr. Nisensius Mety, seluruh dewan guru, staf tata usaha, serta siswa-siswi kelas X dan XI. Namun pagi itu, mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta sebuah acara. Mereka hadir sebagai keluarga yang sedang mengantarkan salah satu anggota terbaiknya menuju babak kehidupan yang baru.
Masa pensiun memang merupakan kepastian yang akan dialami setiap insan. Namun ketika saat itu tiba, tidak semua hati siap menerimanya. Sebab yang berakhir bukan sekadar rutinitas mengajar, melainkan juga kebersamaan, sapaan setiap pagi, tawa di ruang kelas, serta ribuan kisah yang tumbuh dari relasi antara guru dan murid.
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama. Dalam suasana yang khidmat, setiap orang larut dalam rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui oleh sosok guru yang dikenal tegas, disiplin, namun penuh perhatian terhadap para siswanya. Sambutan demi sambutan kemudian mengalir, menghadirkan kenangan dan penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan selama hampir tiga dekade.
Ketika tiba saatnya para siswa menyampaikan pesan dan kesan, suasana berubah menjadi lebih hangat sekaligus mengharukan. Kenangan-kenangan sederhana yang selama ini tersimpan dalam hati mereka mulai menemukan suaranya.
“Bapak berhasil membuat pelajaran Matematika menjadi menyenangkan. Bapak juga suka menyapa kami di luar sekolah dan sering membuat candaan untuk kami,” ungkap Yohana, siswi kelas X, dengan mata yang berkaca-kaca.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sapaan dan candaan biasa. Namun bagi seorang siswa, perhatian kecil dari seorang guru sering kali menjadi kenangan besar yang tersimpan sepanjang hidup.
Kesan yang tak kalah menyentuh disampaikan oleh Kenzo, siswa kelas XI.
“Bapak adalah guru favorit dari ibu saya. Beliau selalu bercerita tentang kebaikan Bapak dan cara mengajar Bapak yang menyenangkan.”
Kalimat sederhana itu seolah menunjukkan bahwa pengaruh seorang guru tidak berhenti pada satu generasi. Ia menjalar melintasi waktu, hidup dalam cerita, dan diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan cenderamata oleh frater kepala sekolah sebagai simbol penghormatan atas pengabdian yang telah dipersembahkan selama 28 tahun 6 bulan. Di balik bingkisan sederhana itu tersimpan rasa hormat, terima kasih, dan cinta dari seluruh keluarga besar sekolah.
Dalam sambutannya, frater kepala sekolah menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh hadirin.
“Bapak boleh pensiun, tetapi ilmu yang Bapak berikan tidak akan pernah pensiun. Ilmu itu akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan turun-temurun melalui setiap siswa yang pernah Bapak didik.”
Di antara riuhnya apresiasi itu, terselip kesadaran bahwa hari itu bukan hanya tentang perpisahan, melainkan juga tentang warisan. Sebab seorang guru sejati tidak meninggalkan bangunan atau harta benda, melainkan meninggalkan jejak dalam hati dan pikiran murid-muridnya.
Suasana haru juga nampak ketika Bapak Pardede berdiri untuk menyampaikan pesan terakhirnya sebagai guru di SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige. Dengan suara yang bergetar dan mata yang tak mampu menyembunyikan rasa haru, beliau berkata:
“Guru itu memang lilin yang siap bersinar untuk menyinari perjalanan hidup kalian. Hari ini lilin Bapak sudah padam di sekolah ini, sekarang tinggal cahayanya yang tinggal bersama kalian.”
Seketika suasana menjadi hening sebab semua yang hadir memahami bahwa lilin itu memang akan padam, tetapi terang yang telah diberikannya akan terus hidup dalam setiap langkah anak-anak yang pernah dibimbingnya.
Acara kemudian ditutup dengan momen bersalaman antara para siswa, guru, dan staf sekolah dengan Bapak Pardede. Satu per satu tangan menjabat erat, seolah enggan melepaskan sosok yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ada senyum yang mengembang, tetapi ada pula air mata yang jatuh diam-diam.
Hari ini, SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige tidak sekadar melepas seorang guru yang memasuki masa pensiun. Sekolah ini sedang memberikan penghormatan kepada seorang pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menyalakan cahaya pengetahuan dan harapan bagi generasi muda.
Atas nama seluruh keluarga besar SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige, kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Sabar Pardede, S.Pd. atas 28 tahun 6 bulan pengabdian yang penuh dedikasi, kesetiaan, dan cinta kepada dunia pendidikan.
Selamat memasuki masa purnabakti, Bapak. Ruang kelas mungkin akan kehilangan langkah kaki Bapak, tetapi nilai-nilai yang telah Bapak tanamkan akan terus hidup. Sebab guru sejati tidak pernah benar-benar pergi; ia akan selalu tinggal dalam kenangan, dalam ilmu yang diwariskan, dan dalam hati setiap murid yang pernah berada dalam didikan kasihnya.
Kontributor: JRT
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini